Kapan terakhir kali menonton sebuah film horor yang benar-benar menakutkan? Tidak hanya membuat kita menjerit-jerit tapi juga merasa tercekam oleh situasi dan atmosfir yang terdapat di dalam sebuah film horor tersebut? ‘Insidious’, sebuah horor psikologis yang benar-benar mengandalkan suasana seram dan menegangkan, ketimbang banjir darah atau potongan tubuh. Yang lebih memuaskan lagi, film ini sangat menyeramkan!
Premis ‘Insidious’ sebenarnya sederhana saja bahkan cenderung memakai arketipe film-film sejenis. Sepasang suami istri, Josh (Patrick Wilson) dan Renai Lambert (Rose Byrne) baru saja pindahan kesebuah rumah, bersama dengan tiga anak mereka, Dalton (Ty Simpkins), Foster (Andrew Astor) dan Cali yang masih batita. Tidak lama, Dalton mengalami insiden kecil, ia terjatuh dari tangga. Luka yang dideritanya sama sekali tidak berbahaya, namun keesokan harinya ia ditemukan koma. Tiga bulan kemudian, Dalton masih tergeletak koma yang kini merawati perawatan dirumah saja. Namun, kemudian Renai mulai merasakan keganjilan. Ia merasa diganggu oleh sosok-sosok misterius yang ia yakini bukan manusia. Renai yakin jika rumah mereka berhantu.
Disaat karakter-karakter di film sejenis malah berlama-lama di rumah yang dikira angker, karakter di film ini cukup cerdas dengan serta-merta memutuskan untuk pindah kerumah yang lain, meski sebenarnya Josh tidak terlalu percaya dengan ketakutan sang istri. Namun ternyata pindah rumah bukan solusi terbaik bagi mereka, karena tetap saja segerombolan mahluk halus kerap mengantui mereka. Akhirnya Josh pun percaya dengan ketakutan istrinya. Atas inisiatif ibunya Josh, Lorraine (Barbra Hershey), mereka akhirnya memanggil seorang cenayang bernama Elise Reiner (Lin Shaye) yang dibantu oleh dua orang ahli mahluk gaib yang dipersenjatai perlengkapan moderen, Specs (Leigh Whannell) dan Tucker (Angus Sampson), untuk membantu Lambert sekeluarga dalam menghadapi gangguan mahluk halus tersebut. Lantas, apa latar belakang terror ghaib tersebut?











