Showing posts with label Puisi. Show all posts
Showing posts with label Puisi. Show all posts

Tuesday, April 30, 2013

Galau


Pada malam yang menghadirkan rembulan
Ada rindu yang berusaha diredam
Saat pendar sinar rembulan perlahan memudar
Dan Pungguk hanya mampu mengintip rembulan dari celah dahan

Saat langit malam menghampar luas
Ada rasa yang tak dapat terupa kata
Terkulum  di tiap lembar dinding hati
Menggumam kisah yang tak pernah ada

Sunday, March 31, 2013

Jejak-jejak Duga


Lagi-lagi kau menorehkan duga dalam pekatnya kabut maya
dan entah untuk yang kesekian kali aku tak dapat mencerna kata-kata dengan logika
terlalu buram diantara harap yang berterbangan di udara
sedangkan kau berupa bayang yang jauh tak terbaca

Aku terdiam sejenak diantara jeruji yang kini ku jaga
menahan setiap letupan resah pada tanggul-tanggul keyakinan
dan kau terus saja menderas menuang harap pada cangkir asa
sedangkan yang ku teguk, hanya getir pahit mimpi yang telah lama hilang

Aku telah belajar agar tidak buta pada aksara fana
yang diam-diam bergerilya pada dinding langit benakku
sadarkah kau? aku begitu takut kata2mu semakin meretaknya
yang membiarkanku mengambang pada waktu tuk menunggu

Kini, aku memilih untuk menyimpannya di tepi jendela
barangkali benar esok janji kan tertunaikan, seperti katamu
namun jika tidak, aku sudah terbiasa menelan dialog masa lalu
kemudian merintikkan kata pada jejak-jejak duka, sewaktu senja...

Thursday, May 10, 2012

Celoteh dalam Ritme Hati


Gerimis di sore itu mengingatkanku akan sebuah kenang
yang bergelayut jingga dalam rona hati
sebuah memoar yang tak kunjung berhenti
pada sebuah tanya tentang ritme hati

bergejolak dalam riaknya
merintih di kepingan terakhir
mengaduh pada yang tak redam diterpa badai

kuingin lampaui segala batas yang ada
hingga tak kutemukan lagi jelaga itu
yang menghalangi tabir diri
merobohkan segala tiran nurani

Friday, April 13, 2012

Jejak-Jejak Kabut Persahabatan



Ketika senja hadir di sudut jendela....
ada ribuan cerita yang merintih lirih diantara pasungan hati.

Menjelang malam kurapatkan jemari ini
menghantarkan kenangan yang tersimpan dalam ruang hati
kosong yang hampa menusuk nurani
teringat kenang lusuhnya persahabatan kita

Titik-titik samar semakin membutakan arah langkahku
menipu arah mana yang ku tuju
terjerembab dalam genakan fakir air mata

Kembali kita lalui jejak-jejak kabut persahabatan kita
Walau riuh gemuruh di hati kita tentang alpa lama
Sahabat, walau simpul ini telah cidera

Saturday, February 25, 2012

Pagiku Tak Secerah Kemarin


Pagi menyapa dengan lembutnya
melantunkan aroma tanah yang basah semalam karena hujan
Pagi berarak tak menentu
karena mentari tak kunjung datang
enggan beringsut dari peraduannya karena sang awan yang menghadang

pagi ini tak kulihat senyumnya mentari
tak dapat kurasa hangat belaiannya yang menyinari bumi
hanya ada semburat mendung di langit
membisikkan kata sendu

Pagi ini langit pucat, tak secerah pagi kemarin
Sama seperti rona hatiku kini
yang gerimis tak menentu
tercekat oleh sang waktu
yang diam-diam mencekik seluruh urat nadiku

Sunday, January 1, 2012

Nyanyian Jiwaku


sekedar mengais asa dalam sangkar hari
terbuai jelaga yang pekat menutup jiwa
bergulir dalam aroma nuansa fakir
bergelayut hingga mengakar tabir

jinggaku kini lantunkan nyanyian
nyanyian yang membias dalam kebisingan
menghujam kalbu menyentak hati yang rapuh
sebuah kenang yang kembali bergulir
setelah lama terkubur dalam buaian tanah

mengibaskan serpihan hati yang merindu
ketika kenang yang hadir mengobarkan amarah
membakar jiwa yang meradang kaena perih

akankah bermula ataukah berakhir
semua hanya tanda tanya semata
takkan tau kapan akan berakhir
semua kisah dalam fatamorgana jiwa

Saturday, December 31, 2011

Hati yang Kembali Menyongsong Masa



Aku beringsut dari kegelapan hatiku
mengumpulkan kembali ingatan-ingatan masa lalu
kembali melangkah walaupun pahit dan perih
perih yang selama ini bersembunyi di kehilapan jiwa
terseret langkahku menyongsong masa
mencoba berpijak pada jiwa yang telah mati
tertidur dalam buaian semu
berarak menghampiri mentari yang tak pernah mati

Semoga hati ini kian bercahaya
setelah lama mati dan hilang arah
aku kini yang bertahan di kepingan terakhir
asa hidup yang kembali bermula
harapan yang kembali terhimpun
menapak jejak di sela genangan air mata
menghapus semua luka yang mengibas asa

Thursday, December 29, 2011

Hilang Tak Tentu Arah


Aku mulai mengemas semua ingatan dan kenangan
pada kotak kaca agar dapat pecah berkeping-keping saat kuhempaskan
Titik-titik samar semakin membutakan arah langkahku
menipu arah mana yang ku tuju
Dan aku sudah terlanjur melangkah terlalu jauh
di antara ruang yang entah dimana akhirnya..

Ku kira, perjalanan ini kan segera tiba diujungnya.
Namun duga tlah menutupi segala logika.
Hingga tak terbaca lagi semua guratan yang tlah dituliskan-Nya.
Aku hilang arah tak tau kemana harus berkendara.
Sementara kemudi masih kosong tanpa pengendara.

Mengeja Ingatan Pada Nyata


Ada dinding paling beku yang menjulang kokoh di apungan jarak waktu
Dinding  yang menyerap setiap kata hingga bisu meraja..
Hening yang gamang.. Tak ada bincang
hanya lafal yang mengambang di udara, kemudian menguap terterik waktu.

Kata-kata telah menghilang
dan aku tak tau bagaimana cara mengeja ingatanku pada nyata
Waktu bergerak mundur pada angka minus
Gigil pagi ini melumpuhkan mimpi hingga mampat pada lorong harap
kemudian membatu, dan hancur menjadi debu.

Tuesday, November 29, 2011

Tertatih dalam Pusaran Kata

Ada yang diam-diam membangun sarang
dari remah-remah mimpi
ketika lelah menyergap lamunan


Sarang angin termangu menatap wajah-wajah lelah
ketika gelegak dingin membungkam pusaran laju
segores luka terasa di ngilu punggungnya.

Pada deretan kata yang tak sempat diterjemahkan
ia  tertatih menyusuri sepercik rindu yang mungkin bisa direguknya di sela perjalanan.
meski gelap membayangi bahasa yang terangkai

Ibu, anakmu tergagap dalam pencarian makna
terlunta dalam bising riuh pusaran kata

tiada kepastian mengalir hingga ujung bulan

Monday, November 28, 2011

Jangan Pernah Berubah


Gerimis yang hening sayup-sayup menyapa ingatan.
Akan sebuah kenangan yang tersimpan rapi dalam kotak ingatan.
Tentang sebuah persahabatan antara kau dan aku.
Akankan engkau akan mengingatku seperti aku selalu mengingatmu? 
Akankah kau tetap seperti seseorang yang ku kenal dulu?? 
Jangan pernah berubah…mungkin itu intinya. 
Jangan pernah berubah meskipun kau kini kan memasuki dan berada di duniamu yang baru. 
Jangan pernah berubah meskipun raga kita tak lagi berjumpa. 
Jangan pernah berubah, meskipun mungkin akan jarang terlukis kisah di antara kita 
Jangan pernah berubah…dan akupun begitu…

Wednesday, November 2, 2011

HUJAN


ketika ku duduk di tepi jendela, sungguh kusuka
menatap langit yang mendung dan merasakan hembusan angin yang menyapaku.
aromanya kusuka karena ia membawa pesan tentang hujan yang akan datang bertandang.
Aku suka membaui aromanya, menghelanya hingga ke pori-pori ingatan.
Membiarkannya bermain-main pada kilasan lampau tentang sebuah kenang.

Ya...aku suka hujan....
Tiap hujan datang hatiku seolah menyatu dengan irama yang dibawanya.
Irama yang menghanyutkan hatiku akan kenang yang telah usang.
Hujan pun kadang menari-nari riang, menghentak-hentakkan kakinya pada tanah dan atap rumah.

Aroma hujan sayup-sayup menyapa ingatan
saat langit sedang berpesta, mendendangkan lagu-lagu kehidupan
sedangkan awan terus menyerpih bulirnya menjadi rintik bening hujan
dan gerimis menari-nari dalam hening kenangan

Tuesday, October 18, 2011

Menapaki Jejak-jejak Harapan


Kala hujan mengusik ruang sendu
Merintik deras pada harap yang kian layu
Dinginnya menyesap hingga ke pori-pori kalbu
Membuat jiwa-jiwa penat kian sayu
Dan serahkan penantian pada detik waktu

Kala sebulir doa terdengar bergumam
Akankah datang  yang di nanti-nantikan???
Tuk membawaku arungi panjangnya perjalanan
Merentas semua asa yang telah lama mati
Terkubur dalam luka dan emosi yang temaram

Semoga saja fajar kali ini kan membuka lembaran baru
Pada kisah yang masih panjang tuk dilintasi
Tak ada lagi sesal....
Hanya segenggam harap yang masih ku kepal
Tuk kembali menapaki jejak-jejakMu yang telah lama aku tinggal

Saturday, October 1, 2011

Aksara Hatiku


Satu hari berganti lagi
lembaran baru kembali terisi
oleh kisah yang masih belum bertepi
dan pena takdir masih saja terus menari
seakan tak ingin berhenti
goreskan cerita suka dan duka
akhirnya pada koma aku terjeda
akankah sampai pada titiknya?
ataukah terus menggantung pada sebuah tanya?
 
Adakah aksara yang terangkai menumbuhkan rasa?
membangkitkan jiwa
untuk lebih dekat menautkan jemari kita
menyapa panorama senja
dan mencipta makna
pada satu muara "cinta karena-Nya"


*Di penghujung malam yang menyelipkan sendu dihati....*

Sunday, September 11, 2011

Kenangan Akan Siluet Luka


Desiran angin malam ini, tak mampu mengusir rindu
Ketika kenang yang menjelaga di dasar hati
Tak mampu membias pucuk-pucuk harapan
Yang meranggas perlahan
Pada gemuruh yang kembali bergumamam
Riuhnya, tak mau diam
Mencerca setiap bait dan kata dalam bungkam

Sudahlah, mentari tlah meninggalkan jejaknya pada langit senja
Usah kau cari sinarnya yang tlah menyengat jiwa
Membakar hingga ke pori-pori rindu
Dan silaunya butakan mata logikamu

Kini, nikmati saja siluet rona nya
Jingga membayang semua asa yang pernah tercipta
Ikuti saja jejaknya hingga sudut khatulistiwa
Mungkin di sana kan kau temui makna dari sebuah luka...

Friday, September 9, 2011

Mohon Maaf Lahir Batin



Ribuan ucapan maaf mengalir
hanya pada malam ini
"lalu kemana malam-malam sebelumnya?"

musim semi berubah jadi dingin
aliran air menjadi beku
bumi pun tertunduk malu

padmasana langit kini tengah sibuk
mengumpulkan amal penduduk dunia
sementara mereka bertanya-tanya : "akankah aku diampuni?"

dibalik belukar masa lalu yang nanar oleh sesal
diantara tumpukkan jerami yang kian dipenuhi sampah
dibalik lembaran ayat suci yang sesak oleh debu

seringkali kita yakin hidup seribu tahun lagi
meski maut mengintai dibalik helaan nafas
"Oh... Rabb..sombongnya diriku!"

langkah-langkah kecil menuju maksiat
masih saja senantiasa diingat
kala benar itu masih samar

seringkali merasa apa yang dilakukan baik
hingga kenyataannya salah itu nyata
"Oh...Rabb..bodohnya diriku!"

Wednesday, August 24, 2011

Rumah yang Kehilangan Nyawanya


Lantai-lantai bening itu merintih kesepian
merindukan sentuhan dahi dan jemari dalam khusyuk keikhlasan
merindukan derap kaki bergegas memenuhi panggilan adzan
merindukan desah nafas hamba mengagungkan Tuhan

Ia lantai pualam, tapi kesepian
Ia sepatutnya berbangga ketika menjadi bagian dari rumah Tuhan
tapi ia kesepian.

ia terlalu akrab dengan suara batuk muadzin renta
yang mulai menghitung nafasnya satu dua
yang masih memeluk masjid dengan setia
walau di tiap rakaatnya jamaah hanya dua atau tiga

ia kini dilapisi karpet mewah
tapi sungguh yang ia ingini hanya ramainya jamaah

ia kini ditemani tembok kokoh dengan ukiran kaligrafi berseni tinggi
tapi sungguh yang ia rindui anak-anak riang mengaji

ia kini bermahkota kubah raksasa
tapi sungguh yang ia pinta dzikir seorang hamba

Sunday, January 9, 2011

Biarkan aku Begini Adanya

Ya Rabb....izinkan aku untuk sekali ini saja mengeluh padaMu
izinkan aku untuk menumpahkan segala rasa yang menyesak di dada ini
biarkanlah air mataku  ini mengalir....
sakit rasanya hati ini....sungguh aku tak ingin untuk pura-pura bersabar
pura-pura tak terjadi apa-apa dan melupakannya begitu saja

biarkan aku merasakan kesedihan ini, biarkan aku merasakan kelelahan ini
biarkan saja aku seperti ini....
Untuk saat ini biarkan saja aku terpuruk seperti ini
biarkan aku begini adanya....

tapi Ya Rabb....
ketika nanti.....disaat aku sudah bisa mengobati semua luka ini
disaat aku sudah kebal dengan segala rasa sakit itu
tolong hambamu yang lemah ini Ya Rabb....
bantu aku untuk bangkit dari masa-masa kelam itu
tuntun agar aku bisa menunjukkan pada dunia bahwa aku bisa
bisa menjadi orang yang berarti untukMu dan orang-orang yang mengasihiku
ajarkan aku untuk merubah semuanya sesuai dengan kehendakMu

Friday, December 31, 2010

Bila Tiba Waktu Berpisah

Di bawah naungan langit biru dengan segala hiasannya yang indah tiada tara
Di atas hamparan bumi dengan segala lukisannya yang panjang terbentang
Masih kudapatkan dan kurasakan
Curahan rahmat dan berbagai ni’mat
Yang kerap Kau berikan
Tapi bila tiba waktu berpisah
Pantaskah kumemohon diri
Tanpa setetes syukur di samudera rahmat-Mu

Di siang hari kulangkahkan kaki bersama ayunan langkah sahabatku
Di malah hari kupejamkan mata bersama orang-orang yang kucintai
Masih kudapatkan dan kurasakan
Keramaian suasana dan ketenangan jiwa
Tapi bila tiba waktu berpisah
Akankah kupergi seorang diri
Tanpa bayang-bayang mereka yang akan menemani

Ketika kulalui jalan-jalan yang berdebu yang selalu mengotori tubuhku
Ketika kuisi masa-masa yang ada dengan segala sesuatu yang tiada arti
Masih bisa kumenghibur diri
Tubuhku kan bersih dan esok kan lebih baik
Tanpa sebersit keraguan
Tapi bila tiba waktu berpisah
Masih adakah kesempatan bagiku
Tuk membersihkan jiwa dan hatiku

Setiap kegagalan yang membawa kekecewaan
Setiap kenyataan yang menghadirkan penyesalan
Masih kudengar dan kurasakan
Suara-suara yang menghibur
Tuk menghapus setiap kecewa dan sesal
Tapi bila tiba waktu berpisah
Adakah yang akan menghiburku
Akankah aku pergi tanpa kekecewaan dan penyesalan

SAHABAT

Sahabatku adalah tetesan embun pagi
yang jatuh membasahi kegersangan hati
hingga mampu menyuburkan seluruh taman sanubari
dalam kesejukan

Sahabatku adalah bintang gemintang malam di angkasa raya
yang menemani kesendirian rembulan yang berduka
hingga mampu menerangi gulita semesta
dalam kebersamaan

Sahabatku adalah pohon rindang dengan seribu dahan
yang memayungi dari terik matahari yang tak tertahankan
hingga mampu memberikan keteduhan
dalam kedamaian

Wahai angin pengembara
kabarkanlah kepadaku tentang dirinya

Sahabatku adalah kumpulan mata air dari telaga suci
yang jernih mengalir tiada henti
hingga mampu menghapuskan rasa dahaga diri
dalam kesegaran

Sahabatku adalah derasnya hujan yang turun
yang menyirami setiap jengkal bumi yang berdebu menahun
hingga mampu membersihkan mahkota bunga dan dedaun
dalam kesucian

Sahabatku adalah untaian intan permata
yang berkilau indah sebagai anugerah tiada tara
hingga mampu menebar pesona jiwa
dalam keindahan

Wahai burung duta suara
ceritakanlah kepadaku tentang kehadirannya