Sunday, March 31, 2013

Jejak-jejak Duga


Lagi-lagi kau menorehkan duga dalam pekatnya kabut maya
dan entah untuk yang kesekian kali aku tak dapat mencerna kata-kata dengan logika
terlalu buram diantara harap yang berterbangan di udara
sedangkan kau berupa bayang yang jauh tak terbaca

Aku terdiam sejenak diantara jeruji yang kini ku jaga
menahan setiap letupan resah pada tanggul-tanggul keyakinan
dan kau terus saja menderas menuang harap pada cangkir asa
sedangkan yang ku teguk, hanya getir pahit mimpi yang telah lama hilang

Aku telah belajar agar tidak buta pada aksara fana
yang diam-diam bergerilya pada dinding langit benakku
sadarkah kau? aku begitu takut kata2mu semakin meretaknya
yang membiarkanku mengambang pada waktu tuk menunggu

Kini, aku memilih untuk menyimpannya di tepi jendela
barangkali benar esok janji kan tertunaikan, seperti katamu
namun jika tidak, aku sudah terbiasa menelan dialog masa lalu
kemudian merintikkan kata pada jejak-jejak duka, sewaktu senja...

0 comments:

:a: :b: :c: :d: :e: :f: :g: :h: :i: :j: :k: :l: :m: :n:

Post a Comment

Terimakasih telah sudi membaca artikel ini. Penulis memohon kesediaan sobat untuk mengisi kotak komentar. Untuk menggunakan Emoticon, tulis teks yang ada di samping gambarnya.