Showing posts with label Renungan. Show all posts
Showing posts with label Renungan. Show all posts

Sunday, December 30, 2012

Tahun Baru Masehi vs Hijriyah

Besok malam adalah malam tahun baru masehi, yaitu permulaan tahun pada kalender gregorian. Dan sudah menjadi adat atau bisa dibilang tradisi ketika datangnya tahun baru masehi hampir di seluruh belahan dunia menyambut tahun baru penuh dengan suka cita. Gemerlap keindahan kembang api menghiasi langit di malam tahun baru, terompet tahun baru pun ditiup bersahutan bertepatan dengan bunyi dentang jam 00.00.

Sebagai seorang muslim, ingatkah sahabat kapan tahun baru Hijriyah? Di negara ini yang notabene mayoritas beragama Islam, tidak terlihat perbedaan yang mencolok ketika tahun baru Hijriyah. Jalan-jalan begitu sepi dan hanya segelintir orang yang merayakan, bahkan banyak yang tidak tahu kalau hari itu tahun baru agamanya sendiri.. Islam!!! Rasulullah bersabda :

Wednesday, July 25, 2012

Ajari ku MencintaiMu

Ada jerit jauh di dalam nurani yang menusuk relung hati
Saat Kau datang lagi setelah setahun lamanya tak bertemu
sungguh kerinduanku padamu telah menderu batinku
mendesak.. menyesak.. melampaui setiap definisi
yang bisa diraba oleh sebuah aksara

Duhai tamu istimewa
Tamu teristimewa yang selalu kutunggu
Terima kasih kau masih berkenan menyapaku kembali
diri yang hina dan berpeluh dosa ini

Marhaban Yaa Ramadhan

Marhaban Yaa Syahru Ramadhan.. Marhaban Yaa Syahrul Maghfirah..
Marhaban Yaa Syahrul Quran… Marhaban Yaa Syahrul ibadah…


Happy Ramadhan to All Muslim in the World!
Finally! the month that we all been waiting for,, it's here! Ramadhan it's here!
And it's time for us to Apologies each other for every mistake we have done to each other that  intentional and unintentional.

Mohon maaf atas segala kealpaan, ketinggian hati, kedustaan lidah dan kecerobohan akhlak
semoga berkah melimpahi kita di bulan penuh rahmat
Amiin amiin yaa rabbal 'alamin...

Sekali lagi kita jalani, dahsyatnya bulan Ramadhan. Setiap kali memasuki bulan Ramadhan, hati ini berdebar-debar. Ada yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Ada rasa gugup, ada kecemasan, ada rasa penuh harap, dan ada pula penyesalan. Tidak bisa terkatakan.

Tuesday, November 29, 2011

Tertatih dalam Pusaran Kata

Ada yang diam-diam membangun sarang
dari remah-remah mimpi
ketika lelah menyergap lamunan


Sarang angin termangu menatap wajah-wajah lelah
ketika gelegak dingin membungkam pusaran laju
segores luka terasa di ngilu punggungnya.

Pada deretan kata yang tak sempat diterjemahkan
ia  tertatih menyusuri sepercik rindu yang mungkin bisa direguknya di sela perjalanan.
meski gelap membayangi bahasa yang terangkai

Ibu, anakmu tergagap dalam pencarian makna
terlunta dalam bising riuh pusaran kata

tiada kepastian mengalir hingga ujung bulan

Saturday, November 26, 2011

Sensitivitas tinggi vs Introspeksi Diri


ketika kita menuntut orang utk bersikap seperti yg kita inginkan, sudahkah kita sendiri introspeksi diri dg sikap & perbuatan kita?

sekarang aku baru merasakannya, yaa....kemarin-kemarin ini aku sempat sensi sekali dengan salah satu teman sekamarku. Aku memperlihatkan raut muka yang sangat tidak pantas, diamnya aku, kesalnya nya aku begitu aku perlihatkan di depannya bahkan perkataannya tak aku gubris.

sahabat MAAF.....
jika kemarin emosi menutup mata hatiku
MAAF....jika sikap dan perbuatanku melukaimu
MAAF....jika perkataanku menorehkan luka dihatimu

ternyata baru kurasa
memperlihatkan ke 'sensi' an kita itu sangatlah tidak nyaman bagi si korban
bingung untuk berkata maupun bersikap
tak tahu apa yang harus dan selayaknya dilakukan
meradang tak tentu apakah karena kesalahan kita atau kita sendiri yang memang sensitif
sehingga membuat orang lain menjauh

bukankah senyum itu ibadah????
mungkin ini pesan yang ingin Allah sampaikan bahwa
semarah apapun kita, sesulit apapun permasalahan yang menghadang kita dan sesedih apa pun kita
sebisa mungkin untuk tidak menunjukkannya di hadapan sahabat-sahabat kita apalagi melampiaskannya kepada orang yang sama sekali tidak tau permasalahan yang sedang dihadapi.

Wednesday, November 2, 2011

HUJAN


ketika ku duduk di tepi jendela, sungguh kusuka
menatap langit yang mendung dan merasakan hembusan angin yang menyapaku.
aromanya kusuka karena ia membawa pesan tentang hujan yang akan datang bertandang.
Aku suka membaui aromanya, menghelanya hingga ke pori-pori ingatan.
Membiarkannya bermain-main pada kilasan lampau tentang sebuah kenang.

Ya...aku suka hujan....
Tiap hujan datang hatiku seolah menyatu dengan irama yang dibawanya.
Irama yang menghanyutkan hatiku akan kenang yang telah usang.
Hujan pun kadang menari-nari riang, menghentak-hentakkan kakinya pada tanah dan atap rumah.

Aroma hujan sayup-sayup menyapa ingatan
saat langit sedang berpesta, mendendangkan lagu-lagu kehidupan
sedangkan awan terus menyerpih bulirnya menjadi rintik bening hujan
dan gerimis menari-nari dalam hening kenangan

Tuesday, October 18, 2011

Menapaki Jejak-jejak Harapan


Kala hujan mengusik ruang sendu
Merintik deras pada harap yang kian layu
Dinginnya menyesap hingga ke pori-pori kalbu
Membuat jiwa-jiwa penat kian sayu
Dan serahkan penantian pada detik waktu

Kala sebulir doa terdengar bergumam
Akankah datang  yang di nanti-nantikan???
Tuk membawaku arungi panjangnya perjalanan
Merentas semua asa yang telah lama mati
Terkubur dalam luka dan emosi yang temaram

Semoga saja fajar kali ini kan membuka lembaran baru
Pada kisah yang masih panjang tuk dilintasi
Tak ada lagi sesal....
Hanya segenggam harap yang masih ku kepal
Tuk kembali menapaki jejak-jejakMu yang telah lama aku tinggal

Saturday, October 1, 2011

Aksara Hatiku


Satu hari berganti lagi
lembaran baru kembali terisi
oleh kisah yang masih belum bertepi
dan pena takdir masih saja terus menari
seakan tak ingin berhenti
goreskan cerita suka dan duka
akhirnya pada koma aku terjeda
akankah sampai pada titiknya?
ataukah terus menggantung pada sebuah tanya?
 
Adakah aksara yang terangkai menumbuhkan rasa?
membangkitkan jiwa
untuk lebih dekat menautkan jemari kita
menyapa panorama senja
dan mencipta makna
pada satu muara "cinta karena-Nya"


*Di penghujung malam yang menyelipkan sendu dihati....*

Sunday, September 11, 2011

Kenangan Akan Siluet Luka


Desiran angin malam ini, tak mampu mengusir rindu
Ketika kenang yang menjelaga di dasar hati
Tak mampu membias pucuk-pucuk harapan
Yang meranggas perlahan
Pada gemuruh yang kembali bergumamam
Riuhnya, tak mau diam
Mencerca setiap bait dan kata dalam bungkam

Sudahlah, mentari tlah meninggalkan jejaknya pada langit senja
Usah kau cari sinarnya yang tlah menyengat jiwa
Membakar hingga ke pori-pori rindu
Dan silaunya butakan mata logikamu

Kini, nikmati saja siluet rona nya
Jingga membayang semua asa yang pernah tercipta
Ikuti saja jejaknya hingga sudut khatulistiwa
Mungkin di sana kan kau temui makna dari sebuah luka...

Friday, September 9, 2011

Mohon Maaf Lahir Batin



Ribuan ucapan maaf mengalir
hanya pada malam ini
"lalu kemana malam-malam sebelumnya?"

musim semi berubah jadi dingin
aliran air menjadi beku
bumi pun tertunduk malu

padmasana langit kini tengah sibuk
mengumpulkan amal penduduk dunia
sementara mereka bertanya-tanya : "akankah aku diampuni?"

dibalik belukar masa lalu yang nanar oleh sesal
diantara tumpukkan jerami yang kian dipenuhi sampah
dibalik lembaran ayat suci yang sesak oleh debu

seringkali kita yakin hidup seribu tahun lagi
meski maut mengintai dibalik helaan nafas
"Oh... Rabb..sombongnya diriku!"

langkah-langkah kecil menuju maksiat
masih saja senantiasa diingat
kala benar itu masih samar

seringkali merasa apa yang dilakukan baik
hingga kenyataannya salah itu nyata
"Oh...Rabb..bodohnya diriku!"

Wednesday, August 24, 2011

Rumah yang Kehilangan Nyawanya


Lantai-lantai bening itu merintih kesepian
merindukan sentuhan dahi dan jemari dalam khusyuk keikhlasan
merindukan derap kaki bergegas memenuhi panggilan adzan
merindukan desah nafas hamba mengagungkan Tuhan

Ia lantai pualam, tapi kesepian
Ia sepatutnya berbangga ketika menjadi bagian dari rumah Tuhan
tapi ia kesepian.

ia terlalu akrab dengan suara batuk muadzin renta
yang mulai menghitung nafasnya satu dua
yang masih memeluk masjid dengan setia
walau di tiap rakaatnya jamaah hanya dua atau tiga

ia kini dilapisi karpet mewah
tapi sungguh yang ia ingini hanya ramainya jamaah

ia kini ditemani tembok kokoh dengan ukiran kaligrafi berseni tinggi
tapi sungguh yang ia rindui anak-anak riang mengaji

ia kini bermahkota kubah raksasa
tapi sungguh yang ia pinta dzikir seorang hamba

Ramadhanku Hendak Pergi

Menangislah Untuk Ramadhan Yang Kan Hilang … Menangislah, jika itu bisa melapangkan gundah yang mengganjal sanubari. Jika itu adalah ungkapan penyesalan bahwa Ramadhan sudah akan bergegas pergi, tinggal menghitung hari, Tapi rasanya baru kemarin saya bertekad untuk menyempurnakan tarawih dan qiyamul lail, iya baru kemarin.

Menangislah karena ALLAH tak menjanjikan apa-apa untuk Ramadhan tahun depan apakah saya masih diikutsertakan pada Ramadhan tahun depan atau telah tertidur dibawah tumpukan tanah, sedangkan Ramadhan kali ini hanya tersisa beberapa hari saja, tersadar bahwa Ramadhan kali ini tersia-siakan. Menangislah untuk Ramadhan yang kan hilang. Biar butir bening itu jadi saksi penyesalan.

Menangislah, lebih keras untuk dosa-dosa yang mungkin belum diampuni, tapi saya masih juga menambahi dengan dosa baru. Berapa kali saya sholat taubat? tetapi tak lama kemudian ada saja kelalaian yang saya buat? Menangislah, Tuntaskan semuanya mulai malam ini. Karena besok waktu akan bergerak makin cepat, Ramadhan semakin berlari. Tarawih, sedekah, tilawah Qur’an, qiyamul lail, i’tikaf sudah tak mungkin banyak lagi. Tahu-tahu sudah 6 hari terakhir dan saya masih juga belum siap ditinggalkan Ramadhan.

Ramadhan bergegas pergi, tersadar dan betapa malunya saya ketika sayapun ikut bergegas membeli ticket pulang kampung, bergegas ke mall membeli baju lebaran, bergegas membeli bahan bahan pembuat kue, iya bergegas menyiapkan pesta bukan bergegas dengan ibadah di 6 hari yang tersisa ini, duhai ALLAH, ampuni saya, hambaMU yang tidak tahu diri, hadiah teragung yang engkau letakkan di pintu rumah saya, saya sisihkan dibalik pintu, kantong-kantong keberkatan dan pahala yang ENGKAU sediakan di akhir-akhir ramadhan saya sisihkan, saya lupakan karena saya sibuk menyiapkan kepergianMU dengan pesta…

KEUTAMAAN PUASA

 
Puasa itu memiliki keutamaan yang banyak dan tidak terhingga, diantaranya:

1.  Puasa adalah PERISAI atau tameng bagi seseorang dari NERAKA dan perbuatan MAKSIAT.

Karena itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan orang yang memiliki syahwat yang bergejolak dan ia belum mampu menikah, untuk berpuasa. Sebab, dengan puasa akan menurunkan gejolak syahwat yang meluap-luap sehingga menurunkan pula potensi terjadinya maksiat.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Wahai pemuda, siapa yang memiliki kemampuan di antara kalian untuk menikah, maka menikahlah, karena itu lebih menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Akan tetapi, bagi yang belum mampu, hendaknya ia berpuasa, karena puasa itu perisai baginya. ” (HR.Bukhari dan Muslim dari Abdullah Bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu)

Sebagaimana ia adalah perisai dari perbuatan maksiat, ia juga perisai seseorang dari panasnya api neraka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak seorang hamba pun berpuasa satu hari di jalan Allah kecuali Allah akan akan jauhkan wajahnya dari neraka sejauh 70 tahun perjalanan dengan sebab puasanya itu.(HR.Bukhari dan Muslim dari Abu Said radhiyallahu ‘anhu)


2. Puasa dapat MENGANTARKAN seseorang masuk SURGA.

Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu berkata,”Wahai Rasulullah, tunjukkanlah kepadaku amalan yang bisa menyebabkan aku masuk surga.” Beliau bersabda, “Berpuasalah, tidak ada yang semisal dengannya.”(HR.An-Nasai)

3.Orang yang berpuasa dibalas dengan PAHALA yang TIDAK TERBATAS.

Nabi bersabda, “Allah berfirman, “Seluruh amalan anak Adam dilipatgandakan; satu kebaikan dibalas sepuluh kali lipatnya, sampai 700 kali lipat.” Dan Allah berfirman, “Kecuali puasa, karena itu untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya.” (HR.Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)

Thursday, August 18, 2011

Kiat Meningkatkan Tilawah di Bulan Ramadhan

 Ramadhan yang dikenal sebagai syahrul Qur'an adalah kesempatan yang sangat berharga bagi kita untuk memperbanyak tilawah Al-Qur'an. Nama syahrul Qur'an yang melekat pada bulan Ramadhan adalah karena diturunkannya (permulaan) Al-Qur'an pada bulan ini. Sebagaimana firman-Nya:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآَنُ

Bulan Ramadhan, (yakni bulan) yang di dalam-Nya diturunkan Al-Qur'an (QS. Al-Baqarah : 185)

Rasulullah sendiri memiliki agenda rutin pada bulan Ramadhan bersama Jibril, yakni tadarus. Artinya, Rasulullah membacakan Al-Qur'an yang telah diwahyukan kepada beliau di hadapan malaikat Jibril untuk diverifikasi (secara talaqqi) oleh Jibril, hingga lebih bisa dipastikan tidak ada kekeliruan satu huruf pun di dalamnya.


عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - أَجْوَدَ النَّاسِ ، وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِى رَمَضَانَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ ، وَكَانَ يَلْقَاهُ فِى كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ فَيُدَارِسُهُ


Dari Ibnu Abbas, ia berkata: "Rasulullah SAW adalah orang yang paling murah hati, lebih-lebih ketika bertemu Jibril di bulan Ramadhan. Beliau bertemu Jibril pada pada setiap malam bulan Ramadhan untuk tadarus Al-Qur'an" (HR. Bukhari)

Tuesday, August 16, 2011

Mencari Sahabat Sejati

Sebagai makhluk sosial, manusia memiliki kecenderungan untuk berteman. Islam menganjurkan untuk menjalin pertemanan dengan baik. Pertemanan yang di dalamnya saling menasihati untuk menetapi kebenaran dan kesabaran (QS Al-'Ashr [103]: 3).
 
Islam juga mengingatkan penganutnya agar berhati-hati dalam memilih teman. Sayidina Ali RA pernah berkata, "Kalau kalian ingin melihat kepribadian seseorang, lihatlah bagaimana teman-temannya." Rasulullah juga mengingatkan, "Seseorang itu dipengaruhi oleh agama teman-temannya. Oleh sebab itu, berhati-hatilah dengan siapa kita bergaul."

Ali Zaenal Abidin berkata kepada putranya, "Wahai anakku, berhati-hatilah terhadap lima kelompok. Jangan berteman dan jangan berbicara kepada mereka, serta jangan menjadikannya teman dalam perjalanan." Lalu putranya bertanya tentang lima kelompok itu.

Sang ayah pun menjawab, "Pertama, berhati-hatilah dan jangan bergaul dengan orang yang berkata dusta. Dia bagaikan bayangan yang mendekatkan engkau dari sesuatu yang jauh dan menjauhkan engkau dari hal yang dekat. Kedua, berhati-hatilah dan jangan bergaul dengan orang yang fasik, sebab dia akan menjualmu seharga butiran atau lebih rendah dari itu."


Sunday, August 7, 2011

Tiga Hal yang Harus Diwaspadai Hati

 
Di bulan nan suci ini, sudah sepatutnya muslim menyambutnya dengan penuh suka cita dan menjauhkan diri dari kesedihan. Kesedihan, memang hadir dalam kehidupan manusia. Namun, tak perlu ada kesedihan yang berlebihan. Sebab orang beriman, sepenuhnya sadar bahwa sesuatu yang ia miliki, masalah yang ia hadapi dari dan akan kembali kepada Allah.

Firman Allah Ta’ala: ‘’Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (Al-Baqoroh: 155). Selain itu, orang yang optimis selalu mengucapkan kalimah istirjaa (pernyataan kembali pada Allah) ‘’(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: ‘’Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun’’ (Al-Baqoroh: 156).

Dalam kitab Nashooihul ‘Ibad karya Syeikh Muhammad Nawawi Al-Bantani, disebutkan hadits mengenai tiga hal yang harus diwaspadai. Hal-hal yang harus diwaspadai tersebut ialah:

Pertama, hindari kesedihan di pagi hari dan mengeluhkan kesulitan hidup kepada orang lain. Mulailah menempuh pagi hari kita dengan rasa syukur dan kebahagiaan. Bersyukur karena Allah masih memberikan umur dan kesehatan. Jika mengawali pagi hari dengan kesedihan, maka hidup yang dijalani pun akan terasa berat dan sulit.

Bila seseorang terbiasa bersedih di pagi hari, berarti seakan-akan ia mengeluhkan Allah. Mengeluhkan nasib yang Allah takdirkan untuk kita. Melakukan syikayah (pengaduan) atas nasib buruk yang dialami seseorang kepada orang lain termasuk pertanda tidak ridha atas bagian yang telah Allah berikan. Seseorang hanya pantas melakukan syikayah pada Allah, bukan pada selain-Nya. Lagi pula syikayah pada Allah adalah doa.

Wednesday, July 20, 2011

Akhir dari Pertikaian Jiwa

 
Selepas hujan aku memandang langit...masih ada kabut tipis yang menghalangi sinar mentariku..aku mencari dimana tetesan hujan yg mengembun terbias sinar mentari berkilau menjadi seutas pelangi nan cantik. Entah mengapa kabut itu tak juga mau pergi.. Samar ku picingkan mata, benarkah itu pelangi? Namun mengapa hanya ada satu warna yg menghiasi? Aaaah...sepertinya warna pelangiku telah pudar oleh debu-debu zaman yang penuh nafsu dan ke munafikan.

Aku mencari kemana warna pelangiku pergi... Kutanya awan, dia bungkam. Ku tanya angin, dia hanya berbisik lirih... Entah apa yg diucapkannya....Ku tanya deburan ombak di pantai, ia hanya bergumam hingga berbuih-buih katanya tak dapat ku mengerti...

Lelah kumencari...namun warna pelangi tak kunjung ku temui... Se ekor merpati terbang dan menghampiri "cobalah berhenti sejenak, dan resapi kata nurani...duduklah diam dan pandanglah langit hati... DIA sedang melukiskan warna pelangi untukmu".
Pelangiku kembali berseri...lengkap berwarna-warni...semoga kemunafikan segera berganti dengan kejujuran, agar warna pelangiku tak kembali pudar...

Mungkin sudah saatnya tuk kembali melangkahkan kaki. Setelah beberapa hela terhenti. Terpaku pada fatamorgana bisu yang memain-mainkan anganku. Tersamar logika diantara kabut maya. Terlena oleh mimpi-mimpi yang dibungkus dusta. Bayang-bayang asa yang menggoda, mengajakku berlama-lama terhanyut oleh semilir fana. Aaah..terlalu indah tuk menjadi nyata..

Ku seretkan langkahku satu demi satu. Palingkan kembali wajahku pada jalan lurus-Mu. Kumpulkan bekalku yang tlah terserak. dan aku akan kembali pulang menuju Rabbku...


***sudah saatnya untuk kembali melanjutkan perjalanan panjang menuju-Nya ^_^***

Tuesday, July 19, 2011

Inginku....

Malam yang sungguh sendu, entah apa yang berlari-lari di pikiranku saat ini. Sungguh kurasakan.....ya kurasakan ada makhluk yang sedang mencabik-cabik alam pikiranku ini. Membuka setiap lembaran kisah yang telah kualami. Dan kurasakan sesak yang begitu mendalam. Ya Rabb....

Aku salut kepada orang-orang yang sudah menyiapkan dirinya untuk berjuang di jalan dakwah. Aku ingin menjadi ukhti yang selalu memberikan kedamaian bagi lingkungan di sekitarku. Seorang ukhti yang selalu tersenyum kepada sauradanya walaupun sebenarnya hatinya sedang menangis. Seorang ukhti yang bisa memberikan nasehat di saat saudaranya sedang membutuhkan pencerahan. Seorang ukhti yang mempesona dengan akhlaknya yang luar biasa. Seorang ukhti yang selalu bersyukur dengan apa yang dia dapat dari rabbnya. Seorang ukhti yang mengamalkan alqur’an dan hadist dalam setiap tindakan dan ucapannya. Subhanallah betapa indahnya…


Namun menjadi seperti itu tidaklah mudah. Belum cukup hanya dengan modal berjilbab. Berusaha selalu menjadi baik dari hari ke hari itu juga banyak tantangannya. Kadang masih tersandung dengan kepentinngan dunia yang fana ini. Ingin rasanya aku menguasai ilmu ikhlas dalam setiap aspek kehidupanku. Aku ini masih cinta dunia. Masih ada rasa khawatir kalau aku tidak mendapatkan apa yang aku inginkan. Padahal Allah ada di atas semuanya. Allah sudah mengatur semuanya.

Kadang aku ingin bebas bermain dan berbuat apa saja dengan siapa saja tanpa mempedulikan kalau aku ini seorang muslimah yang mempunyai tanggung jawab kepada islam ketika aku perperilaku. Aku merasa banyak sekali aturan yang mengikatku. Namun akulah yang memilih jalan ini dan aku yakin Allahlah yang memilihkannya untukku. Seharusnya aku bersyukur hidup di tengah orang-orang yang selalu mengingatkanku untuk berfastabiqul khoirot.

Jalan ini memang tidak mudah dilalui dan aku tidak ingin menjadi orang yang gugur sebelum mencapai tujuan. Aku harus tetap semangat. Aku harus kuat untuk menjadi seorang ukhti yang sesuai dengan apa yang sudah aku cita-citakan. Bismillah....

Thursday, July 14, 2011

Duhai Laraku

Terpasung oleh jerat yang menjelaga
Berkelana jiwa, di lembah mayapada...

Duhai lara...
Bilakah kau beranjak dari singgasana???

Malam yang sepi… aku perhatikan semua orang di sekitarku sibuk dengan urusannya masing-masing. Ada yang mengerjakan amanahnya, ada yang menyelesaikan tugas kuliahnya, bahkan ada yang bersiap untuk menghadapi hari penilaiannya. Kalau boleh aku terkadang membenci diriku sendiri. Banyak hal-hal yang terlewat, aku tahu itu tapi aku tidak juga bergeming. Betapa bodohnya…

lemah…lemah…lemah… aku masih lemah…
tolong…tolong…tolong aku butuh banyak pertolongan
tapi ternyata nggak ada yang bisa menolong kecuali diriku sendiri…
mereka begitu sibuk agar menjadi seseorang yang bermanfaat. Banyak sekali kisah para pahlawan masa lalu yang seharusnya bisa aku pelajari. Hidup kok cuma untuk menuruti hawa nafsu. Kasihan benar… padahal hawa nafsu itu yang nantinya akan menertawakan aku… oh malangnya…

Eh sepertinya ada yang menguping pembicaraanku. Siapakah dia? apakah dia musuh yang selalu mengincarku? aduh bagaimana ini? bodyguardku masih terlelap. Aku sendiri tak yakin apa aku bisa bertahan? Kalau begini terus aku bisa mati. Tidak….!!! aku tidak mau mati. Ada apa di sekelilingku? benda apa yang bisa aku gunakan sebagai senjata untuk melawan mereka? musuh-musuhku itu…

Aha! aku tahu bagaimana cara yang efektif untuk bertarung dengan mereka. Ya…. aku tahu… aku tidak akan bersembunyi di balik awan. Aku hanya akan mencari tameng untuk berlindung apabila aku sudah terdesak. Bukan bermaksud untuk menjadi pengecut. Hanya ingin bertahan untuk terakhir.Kan nggak lucu kalau tiba-tiba langsung kalah. Nggak ada ceritanya gitu…
 
Hmmm......
I may stumble along to find my way
But I do not fall
I may not survive every day
But I do not fall
No, I refuse to fall
I do not fall.

Monday, January 10, 2011

TAKDIR ILAHI ♥♥♥♫•*¨*•.¸¸ﷲ¸¸.•*¨*•♫♥♥♥

Kenapa kita pernah merasakan sedih? Kenapa kita pernah merasakan jenuh dalam menghadapi hidup ini? Dan kenapa pula kita pernah merasakan hal-hal yang kurang berkenan dihati?

Jawabannya adalah karena kita tidak memahami takdir Ilahi secara hayati. Sebuah takdir yang memang sudah tertulis untuk kita masing-masing. Setiap manusia sudah ada jalan hidupnya masing-masing akan seperti apa. Allah SWT telah menentukan jalan yang harus kita lalui dalam kehidupan kita ini. Kita hanya diberi kesempatan untuk menjalankannya, tapi aturan ada ditangan-Nya..

Apapun yang terjadi dalam kehidupan kita memang sudah diputuskan oleh Allah akan seperti itu. Maka tak perlu disesali, tak perlu ditangisi dan tak perlu diratapi. Karena bila itu terjadi maka hanya akan menambah beban dihati. Sesuatu hal yang buruk yang menimpa kita belum tentu itu buruk dihadapan Allah.

Allah memberikan musibah itu mungkin agar kita mengambil hikmah dari kejadian tersebut, Meskipun terkadang kita merasa kesal, bete, sedih, dll.Tapi sesudah itu pasti ada kebaikan. Hikmah yang bisa kita ambil antaralain dapat membuat kita lebih waspada dalam mengarungi hidup ini., membuat kita berpikir untuk tidak melakukan kesalahan itu untuk yang kedua kalinya, membuat kita lebih tegar dan berpikir lebih dewasa serta membuat kita lebih bijak dalam menghadapi suatu masalah yang akan menimpa kita selanjutnya.

Satu hal yang perlu kita lakukan adalah kita harus tetap mendekatkan diri kita kepada Allah Yang Maha Esa.Apabila kita telah memahami setiap yang terjadi merupakan sebuah takdir Ilahi maka hidup kita akan lebih tenang, tentram dan nyaman serta menyenangkan. Karena kita yakin setelah kejadian itu pasti akan ada hasil yang terbaik dan akan jauh lebih indah dari apa yang telah kita bayangkan. Jadi untuk apa diratapi.

Ingatlah, tak ada sesuatu hal yang sia-sia yang Allah berikan untuk kita. Allah tak akan menyia-nyiakan apa yang telah kita lakukan dalam setiap celah kehidupan ini. Apa yang telah kita lakukan pasti akan dilihat oleh-Nya. Tak mungkin Allah akan mencampakkan kita begitu saja.Untuk menjalani hidup ini yang kita perlukan adalah kesabaran. Dengan sabar kita tidak akan terbuai oleh emosi keji. Dan kesabaran akan membuahkan keberhasilan..