Menangislah Untuk Ramadhan Yang Kan Hilang … Menangislah, jika itu bisa melapangkan gundah yang mengganjal sanubari. Jika itu adalah ungkapan penyesalan bahwa Ramadhan sudah akan bergegas pergi, tinggal menghitung hari, Tapi rasanya baru kemarin saya bertekad untuk menyempurnakan tarawih dan qiyamul lail, iya baru kemarin.
Menangislah karena ALLAH tak menjanjikan apa-apa untuk Ramadhan tahun depan apakah saya masih diikutsertakan pada Ramadhan tahun depan atau telah tertidur dibawah tumpukan tanah, sedangkan Ramadhan kali ini hanya tersisa beberapa hari saja, tersadar bahwa Ramadhan kali ini tersia-siakan. Menangislah untuk Ramadhan yang kan hilang. Biar butir bening itu jadi saksi penyesalan.
Menangislah, lebih keras untuk dosa-dosa yang mungkin belum diampuni, tapi saya masih juga menambahi dengan dosa baru. Berapa kali saya sholat taubat? tetapi tak lama kemudian ada saja kelalaian yang saya buat? Menangislah, Tuntaskan semuanya mulai malam ini. Karena besok waktu akan bergerak makin cepat, Ramadhan semakin berlari. Tarawih, sedekah, tilawah Qur’an, qiyamul lail, i’tikaf sudah tak mungkin banyak lagi. Tahu-tahu sudah 6 hari terakhir dan saya masih juga belum siap ditinggalkan Ramadhan.
Ramadhan bergegas pergi, tersadar dan betapa malunya saya ketika sayapun ikut bergegas membeli ticket pulang kampung, bergegas ke mall membeli baju lebaran, bergegas membeli bahan bahan pembuat kue, iya bergegas menyiapkan pesta bukan bergegas dengan ibadah di 6 hari yang tersisa ini, duhai ALLAH, ampuni saya, hambaMU yang tidak tahu diri, hadiah teragung yang engkau letakkan di pintu rumah saya, saya sisihkan dibalik pintu, kantong-kantong keberkatan dan pahala yang ENGKAU sediakan di akhir-akhir ramadhan saya sisihkan, saya lupakan karena saya sibuk menyiapkan kepergianMU dengan pesta…